Yang Penting Halal
Tuesday, December 4th, 2007“Pak, biarlah saya ngamen, yang penting kerjaan saya halal! Daripada koruptor di Senayan sana…!”
Begitulah argumen yang sering sekali saya dengar dari para pengamen.
Saya harap dia benar-benar yakin dengan apa yang dikatakannya (=yang
diusulkannya). Kalau saya sih sejujurnya tidak terlalu yakin. Well,
begini saja. Saya kasih contoh lain.
Tiap sore pulang kerja, masuk kompleks rumah pasti tersendat karena
banyak angkot ngetem sembarangan. Naik darah terjadi setiap sore,
sampai-sampai sopir angkot hafal kalau mobil saya mau lewat, mereka
pasti nyingkir duluan–daripada diajak gelut. Biarpun mereka sopir
angkot dilindungi preman sekitar, saya tidak peduli. Pernah suatu hari
angkot yang tidak mau minggir saya datangi sambil saya acung-acungkan
kunci stir yang dari besi itu. Saya gedor-gedor bodi mobil pake kunci
stir itu. Marahlah sang punya angkot. Sekalian aja saya tantangin dan
ngajak gelut. Baru setelah kejadian hari itu, tiap kali ada Baleno
silver, angkot-angkot langsung minggir.
Intinya, saya marah karena mereka mengganggu hak publik. Mengganggu
dalam pandangan saya adalah dosa. Kalau saya biarkan berarti saya ikut
berdosa. Mumpung saya masih mampu mengingatkan, saya ingatkan. Nah,
pekerjaan sopir angkot sudah pasti halal dan membawa rezeki karena
membantu orang. Tapi kalau cara mendapatkannya seperti itu, mengganggu
hak publik, berlaku seenaknya… saya kok curiga uangnya jadi tidak halal
ya. Dan apa yang saya fahami, apa yang berasal dari tidak halal, akan
berakhir tidak baik.
Sama saja dengan pekerjaan guru yang sangat mulia. Kalau
melaksanakannya dengan tidak ikhlas, korupsi dana siswa, kok saya juga
yakin uangnya jadi tidak halal ya…..
…simak kelanjutannya di http://eftianto.wordpress.com