Archive for September, 2006

Analisis: Helm Generasi Tua dan Generasi Muda

Thursday, September 7th, 2006

"…helm kok ditenteng, mbok dipake!"

"Tapi coba bayangkan jika tiba-tiba ada orang mabuk bawa mobil dan menyeruduk mereka dari belakang, kemungkinan Bapak dan Ibunya selamat, tapi 2 generasi penerus bangsa ini akan mati."

Sebenarnya sudah sejak lama saya mengamati prilaku generasi tua dan generasi muda. Target utama analisis adalah untuk mendapatkan jawaban pertanyaan besar: Kenapa bangsa ini begitu terpuruknya, dan tidak bisa bangkit.

Beberapa hari yang lalu, Kompas memuat cerita tentang keberhasilan Rusia melunasi hutang-hutangnya, sebelum jatuh tempo. Mereka bisa lepas dari cengkraman setan ekonomi, IMF. Sebuah cerita yang membesarkan hati mengingat Rusia tidak lebih terpuruknya dibanding Endonesa. Mereka bisa, kita kok tambah parah…

Ok, saya mulai cerita dari analisis pengendara motor. Tidak perlu dibahas tentang tidak tahu peraturannya para pengendara motor karena kita semua sudah tahu. Tapi coba selidiki pada hal-hal yang lebih detil, penggunaan helm. Kalau di jalan utama Jakarta, semua pengendara motor pasti pakai helm–daripada kena tilang tentunya. Tapi coba kalau kita masuk ke kompleks perumahan, atau keluar sedikit dari jalan utama. Melanggar arus, sudah pasti ada. Berada di sisi jalan yang salah juga pasti mudah kita temui. Hal yang benar-benar sangat menarik adalah banyaknya orang yang tidak pakai helm. Menarik dan sungguh bikin saya berfikir tentang tidak pakai helm adalah sebagai berikut:

1. Kebanyakan orang memang tidak pakai helm kalau tidak melewati jalan utama yang ada polisinya. Well, fakta… helm itu adalah barang mengganggu menurut sebagian besar penduduk kita.

2. Ada pengendara motor yang terdiri dari Bapak, Ibu, dan 2 anak kecil mereka. Kelihatannya mereka akan jalan-jalan tidak jauh dari rumah mereka. Semuanya tidak ada yang pakai helm, termasuk 2 anak kecil mereka. Kasus lain, Bapak, Ibu, dan 2 anak naik satu sepeda motor. Bapak dan Ibu pakai helm karena ukurannya tidak pas untuk anak-anak mereka. Mungkin dalam percakapan mereka dengan anak-anak mereka akan begini, "…wis… anak kecil gak pake helm gak papa!" Gak pa pa pasti dari konteks "mengganggu’ terhadap polisi. Maksudnya gak pa pa adalah tidak akan ditilang oleh polisi. Tapi coba bayangkan jika tiba-tiba ada orang mabuk bawa mobil dan menyeruduk mereka dari belakang, kemungkinan Bapak dan Ibunya selamat, tapi 2 generasi penerus bangsa ini akan mati. Bagaimana jika ternyata 2 orang anak itu adalah calon presiden Endonesa yang akan membawa bangsa ini lepas dari keterpurukan? Walaupun nasib ada di tangan Tuhan, tapi alangkah berdosanya orang tua yang tidak menjaga anaknya. Kalaupun terpaksa cuma ada 2 helm, seharusnya justru 2 anak itu yang harus ‘dipakaikan’ helm. Ini salah satu bejatnya generasi tua kita.

3. Ada lagi kasus yang cukup membuat saya bertanya-tanya. Di setiap daerah yang saya kunjungi–tentu saja masih di wilayah Endonesa, pasti saya menemukan kasus ini. Banyak orang berkendaraan motor, membawa helm, tapi helm tidak dipakai di kepala. Kalau tidak jok motor yang dipakaikan helm, kemungkinan stang yang dipakaikan helm. Maksudnya begini, memang mereka bawa helm, tapi helmnya hanya ditenteng dengan susah payah. Ada yang ditenteng di stang sambil nyetir, ada juga yang diselipkan di antara selangkangan–sekali lagi, dengan susah payah. Konsep dari kemauan orang-orang ini saya masih susah untuk merumuskan. Mencoba memasuki sudut pandang merekapun saya masih tidak bisa menemukan jawaban, kenapa? Sebagai orang ketiga, tentunya saya akan mengenali mereka sebagai "orang bodoh". Jelas sekali fungsi helm untuk ditaruh di kepala supaya bisa melindungi kepala manusia saat berkendaraan, siapa tahu tiba-tiba pesawat Mandala terbang rendah dan menyambar kepala kita, paling tidak kita tidak berdosa kepada Tuhan karena kita sudah berusaha melindungi kepala kita. Jelas sekali menurut saya, tapi kok dengan dosa besarnya mereka menaifkan kebaikan dengan tidak memakai helm, dan justru dibawa dengan susah payah di tangannya. Menurut saya, sudah dosa, susah lagi. Seperti orang miskin yang mencuri, sudah susah berdosa lagi.

Orang yang tidak mau pakai helm, sebenarnya menunjukkan jati diri egois (dalam bahasa komunitas). Mereka juga adalah orang-orang sombong. Bisa jadi sombong karena merasa kuat dan tidak perlu pakai helm–kalau begini urusannya menjadi Teologis. Bisa juga sombong karena dengan tidak pakai helm, mereka ingin menunjukkan siapa sih yang sedang naik motor–kalau pakai helm, wajah mereka tidak akan kelihatan. Tidak memakai helm juga berarti berdosa–kalau mau dianggap berdosa. Peraturan naik motor adalah pakai helm. Titik. Jelas sekali. Kalau tidak pakai helm, namanya melanggar. Alasan dibalik itu juga sangat jelas, demi kebaikan. Ada alasan: kan nggak ada polisi, cuman jalan deket kok. Pelanggaran ya pelanggaran, no excuse. Sama saja dengan, saya tidak berzina kok, cuman nyelupin penis saya sedikit ke vagina dia. Itu tetap pelanggaran. Saya nggak korupsi kok, cuman ngambil keuntungan sedikit. Wow.

Dari hal-hal kecil ini sebenarnya bisa untuk menarik kesimpulan dari tolok ukur yang kecil, bahwa bangsa ini adalah bangsa berdosa. Dan silahkan amati oleh kamu sendiri, pelanggaran demi pelanggaran dilakukan tidak hanya oleh generasi tua saja–generasi bejat, tapi sudah menurun ke generasi muda. The wisdom that the old can’t give away, hey.

Yah, begitulah. Sebuah analisis singkat. Mudah-mudahan analisis bisa saya lanjutkan ke tahapan yang lebih dalam.

Ants (Cibubur, 7 September 2006)

ANALISIS: S-O-P PEDAGANG MAKANAN

Tuesday, September 5th, 2006

Berdasarkan pengalaman di lapangan, berikut bisa aku simpulin beberapa SOP (Standard Operational Procedure) dari pedagang-pedagang makanan jalanan:

1. Pecel Lele, SOP nya adalah "Pelanggan harus mengatakannya paling sedikit 2 kali." Penjelasannya begini: Pelanggan datang, maka oleh penjual akan ditanya, "Pesen apa mas?". Pelanggan akan menjawab, "…lele 2, digoreng kering!". 10 menit kemudian, pesanan belum juga dibuatkan. 5 menit kemudian, si penjual bertanya lagi, "…Pesen apa mas?" Seolah-olah dia belum pernah tanya sama sekali. Begitulah SOP penjual lele.

2. Warteg (Warung Tegal), SOP nya adalah "…Mas, minumnya pake es, nggak?"  TIdak usah bingung dengan pertanyaan ini. Kalau ada pertanyaan begini, si pelanggan akan bilang, "…pake!". Lalu penjualnya akan bertanya lagi, "…es apa mas?". Memang kedengaran bodo, tapi memang begitu SOPnya. Bisa aja kan, si penjual (yang kebanyakan gadis-gadis muda dengan logat Jawa) langsung bilang: "minumnya apa, mas!" Iya kan?

3. Warung Kuningan (mirip warteg), SOPnya adalah Penjual harus salah memberikan order pelanggan. Penjelasannya adalah ketika pelanggan meminta lauk telur dadar 2 buah, maka SOP untuk penjual adalah mengambilkan perkedel jagung, sambil bertanya, "perkedelnya berapa mas?". Jangan marah, wong memang begitu bunyi SOPnya.

4. Sate Madura, SOPnya adalah "…Te… Te…!". Te harus diucapkan dengan lantang dan sekeras-kerasnya. Keras dan lantang adalah nomor satu dan dua. Sedangkan pelanggan mengerti apa yang dijual, adalah nomor tujuh ratus. Bisa saja pelanggan mengira dia menjual "Teh". Tapi memang begitu SOPnya.

5. Bakpau, SOP nya adalah "…Wow wow… Wow wow!" Satu hal yang harus diingat dalam SOP ini, adalah mengatakannya dengan sepelan mungkin dengan nada serendah mungkin. Karena suaranya pelan, beberapa pedagang berimprovisasi dengan merekam suaranya dan menyetel menggunakan tape sambil berputar keliling perumahan. Jadi kalau pagi-pagi buta ada suara tidak jelas, atau kurang lebih ada suara …wow wow… dari tidak jelas menjadi jelas dan tidak jelas lagi, kemungkinan itu adalah penjual Bakpao. Atau bisa juga ada orang gila yang sedang melihat Bu RT mandi, jadi dia bilang … wow…wow!

6. Tukang Roti, SOPnya adalah Buatlah warga perumahan terbangun dari tidur nyenyaknya, sedini mungkin. Penjelasannya, kebanyakan warga perumahan berprofesi sebagai karyawan kantor. Mereka enak-enakan tidur di Subuh hari. Mereka (sang karyawan) tidak merasakan susahnya cari duit. Sebagai bentuk toleransi, mereka seharusnya bangun pagi-pagi dan beli Roti. Oleh karena itu pedagang Roti harus membangunkan warga perumahan, bagaimanapun caranya. Salah satunya dengan membuat sirine norak yang merekam suara anak-anak perempuan menyanyi diiringi kibord palsu bertuts 12. Misalnya, Tong teng teng teng, roti… roti. Setiap 6 detik, suara itu akan berulang-ulang, terus-terus-terus, sepanjang perumahan. Kemudian berputar mengelilingi perumahan sekali lagi. Begitu selesai mengelilingi perumahan, akan diulang lagi mengelilingi perumahan, sekali lagi (Mohon sekali laginya dikalikan 12). Untuk menunjang program toleransi ini, pedagang roti diharapkan tidak hanya satu untuk satu komplek. Minimal 5 pedagang dengan setidaknya berkendaraan sepeda onthel. Setiap pedagang juga tidak boleh sama sirinenya. Semakin norak dan tidak jelas, semakin baik. Tong teng teng, roti sasasas roti, roti ya sssasas roti.

Mungkin baru segitu yang bisa dianalisis dari beberapa pedangang. Tambahan analisis tentunya akan sangat berguna untuk dunia ilmiah yang bullshit.

Ants (Cibubur, 5 September 2006)