Cerpen: Saat Kurobek Bajuku
Monday, August 14th, 2006…Belum selesai gemuruh itu, aku diminta memberi sambutan, sepatah duapatah kata,
"…Maaf Bapak Kepala Sekolah, sepatah duapatah kata mungkin tidak cukup untuk mengungkapkan rasa bahagia ini." Begitulah aku memulai sambutan. Teman-teman yang melihat aksiku semakin riuh sambil bertepuk tangan.
"Keberhasilan ini adalah buah kerja keras saya, orang tua, dan bapak ibu guru sekalian. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih yang…" Kulihat cewek-cewek memandangku dengan penuh kagum. Dan itu dia… Lulu, ada di bagian depan. Kulihat dia tampak terdiam sambil terus memandangku. Dia tidak tampak kagum dengan aksiku.
"…Saya jauhi narkoba, alkohol, dan rokok. Suka juga tidak suka tawuran. Untuk apa kita tawuran? Kalau dengan tawuran kita bisa tambah ganteng, saya pasti ikut tawuran. Tapi enggak, kan…?" Hahaha, semua orang tertawa. Tapi tidak dengan Lulu. Kenapa dia? Bukankah pidatoku ini cool, sexy. Apa masih kurang macho? Oke, aku lanjutkan.
"…Waktu kecil saya mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tua saya. Begitupun sekarang. Rasa-rasanya, saya adalah orang paling berbahagia di dunia. Adakah yang lebih baik dari ini?" Teman-teman masih saja bertepuk tangan untuk setiap kata-kata yang indah. Tapi aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah para cewek. Melihat air muka mereka yang bersinar-sinar, membuatku semakin bersemangat. Aku yakin sebagian dari mereka jatuh cinta padaku, atau paling tidak berharap pacar mereka menjadi seperti aku.
Tapi, tetap saja kulihat Lulu tidak sebersinar cewek-cewek yang lain. Ada apa ya? Apa dia tidak kagum padaku? Apakah dia tidak terpesona padaku? Apakah dia tidak jatuh cinta padaku? Tampaknya tidak. Dia mungkin masih mencintai Tommy, yang memang harus aku akui jauh lebih ganteng daripada aku. Tapi aku kan cool, pintar, smart, jago olah raga, dan selalu ceria. Mana mungkin dia masih berteguh pada Tommy? Itu tidak masuk di akal. Oke, lebih baik aku coba lagi.
"…Mimpiku adalah mengubah dunia. Sama seperti Thomas Alfa Edison yang membuat dunia ini menjadi terang benerang. Aku akan membuat dunia ini menjadi lebih bersinar lagi…" Tak cukup dengan itu, aku terus bereksperimen dengan kata-kata.
"…Bulan bersinar itu sungguh indah, tapi alangkah indah jika kita bisa membuat bulan-bulan lain yang lebih indah dan lebih bercahaya. Kita bisa, teman-teman, dan saya berjanji akan mencoba untuk itu…!" Hmm, tampaknya mulai berlebihan. Tapi toh mereka tetap saja bersorak-sorak kagum. Begitu pula guru-guru.
"…Hidup Edy…hidup Edy…hidup Edy…"
Diantara kerumunan wajah-wajah takjub nan berseri itu, masih saja kulihat warna kelabu di wajah Lulu. Ah, aku yakin bukan karena pidatoku ini. Pasti ada yang lain. Terus saja kuarahkan pandanganku ke arah Lulu. Dia tidak berkata apa-apa. Senyumpun tidak tampak keluar dari bibirnya yang seksi.
Sementara pidatoku terus berlanjut, kulihat Lulu mulai meninggalkan barisan, sambil agak berlari menuju ruang kelas.
"…Saya mengajak teman-teman untuk bergabung dengan saya memerangi tawuran antar pelajar. Marilah kita ‘be nice and cool’. Saya yakin segala persoalan dapat kita pecahkan bersama-sama…" Lima belas menit sudah aku berpidato dan tampaknya masih belum akan berakhir. Cewek-cewek juga masih berteriak histeris. Sayang sudah tidak ada Lulu lagi di sana. Aku mencoba berfikir tentang apa yang dilakukan Lulu tadi. Hmmm, mungkin saja dia jatuh cinta padaku, tapi dia pendam perasaannya karena saat ini statusnya masih terikat dengan Tommy. Mungkin karena tidak kuat menahan perasaan itu akhirnya dia keluar dari barisan, sambil menangis menuju kelas. Dan di kelas, dia menangis sekuat tenaga sambil menyesali keadaannya saat ini, "…andai aku belum milik Tommy saat ini, kau pasti jadi milikki, Edy…!" Begitulah mungkin penyesalannya saat ini. Tapi sejujurnya aku tidak tahu apa yang ada di otaknya saat ini. Bisa saja dia sedang kesal dengan lagakku, atau juga dia muak dan muntah melihatku. Mungkin saja dia membenci kesuksesanku. Atau mungkin… tidak ada yang difikirkannya saat ini.
"…Saya meminta teman-teman semua memiliki jiwa solidaritas yang tinggi terhadap nasib teman-teman kita yang ada di Aceh. Solidaritas teman-teman, solidaritas…!" Aku melanjutkan pidatoku dengan bersemangat dan dengan nada suara yang lantang berharap suaraku masih bisa didengan oleh Lulu di ruang kelas sana.
"…Mari kita galang…"
…Brakkk! Tiba-tiba kudengar suara yang lebih keras dari suaraku.
"…ayo serang!" Kulihat segerombolan anak-anak SMA tetangga dengan tampang beringas, baju dikeluarkan, dan sebagian membawa senjata, berlarian menuju sekolahku. Cewek-cewek yang tadinya menyimakku berhamburan berlarian menyelamatkan diri. Aku terdiam sejenak dan berfikir, sebelum kemudian aku berteriak…
"…Kita diserang…!"
***
Perkelahian masal yang ridak bisa dihindarkan. Cowok-cowok salingl empar, saling pukul, saling maki, dan saling tendang. Kaca-kaca sekolah pecah tak karuan. Darah-darahpun mulai jatuh dari cowok-cowok yang kena sabet pedang. Persis seperti film kolosal Brama Kumbara, hanya pakaian mereka tidak tampak konyol, karena mereka berseragam SMU. Sementara aku tetap terdiam dan terbengong di atas podium, tidak bisa berkata-kata. Yang kulihat hanyalah lapangan yang dipenuhi anak-anak SMA yang berkelahi, saling membenci. Aku tak bisa apa-apa. Aku tak bisa ikut memukul, menendang, meninju, karena aku tak tahu alasan perkelahian ini. Ingin rasanya aku melerai mereka dari atas sini, dari podium. Tapi aku tak punya alasan bagus untuk melakukan itu.
"…Mana yang namanya Tommy?" Terika salah seorang dari SMA tetangga itu. Tampaknya dia adalah boss dari gerombolan itu. Sambil memegang pedang yang berlumuran darah, kulihat kepalanya mencari-cari seseorang. Sambil terdiam, kulihat dia seperti Mel Gibson yang memimpin perang di film Breaveheart. Sungguh gagah dan jantan. Aku iri padanya. Sekali lagi dia berteriak…
"…Mana yang namanya Tommy? Kalo gak ada yang kasih tau mana yang namanya Tommy, gua abisin seisi sekolah ini…!" Dia sungguh berwibawa sambil mengacungkan pedangnya.
"Hei, elo yang di atas sana! Mana yang namanya Tommy!"
"G…g…gua gak tau. T…t…tanya aja a..a…ama yang laen…" Astaga, baru saja si Mel Gibson menanyai aku dan aku gugup. Aku tidak bisa meninggalkan podium ini karena aku terlalu gugup, atau takut.
"Emang ada apa dengan Tommy?" aku mulai bertanya pada Mel Gibson lewat microphone.
"Dia nidurin pacar gua! Kurang ajar banget tuh baji***n. Kalo berani keluar lo…Tomy!" Begitulah Mel Gibson berteriak-teriak. Eh… wait a second. Nidurin pacar dia? Memang siapa pacar dia?
"Lulu! Elo semua pasti udah kenal sama dia!" O… jadi cewek yang dimaksud itu Lulu. Hah, Lulu itu pacar Tommy atau Mel Gibson? Lulu ditiduri Tommy?
"Gua gak bisa kasih ampun buat orang-orang yang ganggu pacar gua…!
Tiba-tiba…
"…Gua yang namanya Tommy! Dan gua adalah pacar official Lulu. Elo mau apa?"
Tomy masuk ke tengah arena sambil membawa kayu panjang yang mungkin digunakan untuk senjata. Dari atas sini, podium, bisa kulihat anak-anak lain memberi jalan untuk Tommy. Di tengah arena tinggal Mel Gibson dan Tommy yang saling berpandangan bengis. Sungguh adegan yang sangat dramatis.
Dan terjadilah perkelahian naif itu. Aku bisa melihat detil demi detil bagaikan slow motion. Beberapa kali kulihat Tommy tertebas pedang Mel Gibson. Tiap kali itu pula cewek-cewek berteriak histeris. Tapi tetap saja tidak kulihat Lulu di sana.
"…kurang ajar!"
"…mati lo…"
Begitulah mulut mereka saling mencaci benci bergantian. Peluh keringat mengalir dari tubuh mereka. Sesekali juga kulihat darah yang mengucur. Tetapi perkelahian jantan itu tetap berlangsung seru. Anak-anak yang lain hanya melihat dari pinggir arena.
Ini sudah keterlaluan menurutku. Aku tidak bisa mendiamkan hal ini
"Berhentilah kalian…." aku yakin akulah yang bersuara paling lantang saat itu.
"…Apa kalian sudah gila… hanya karena seorang cewek aja kalian saling bunuh. Apa tidak ada cara lain untuk menyelesaikan permasalahan ini? Pasti ada…!" Tiba-tiba saja aku jadi berani. Entah kekuatan darimana, yang jelas aku tampak berwibawa saat itu. Terbukti perkelahian berhenti dan semua pasang mata memperhatikan aku.
"…Hei kalian!" Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah timur. Ternyata Lulu. Dia berjalan menuju arah kami, perlahan. Begitu tenang, dengan mimik wajah dingin. Cantik sekali. Aku memujamu, Lu!
"Hei, kau anak Mami. Pergilah!" Lulu menunjukku.
"…T…tapi…" Aku keheranan. Kenapa dia justru memintaku pergi. Bukankah aku kelihatan sexy sebagai juru selamat bagi pacar-pacarnya.
"Aku menginginkan perkelahian ini. Dan kau…hanya mengacaukan saja. Aku muak dengan semua tingkah lakumu. Sekali lagi aku bilang…pergi!" Tampaknya kali ini Lulu bersungguh-sungguh. Anak-anak lain bengong melihat kami.
"Lu…aku datang sebagai penyelamat. Melerai perkelahian, dan mungkin saja menyelamatkan pacar kamu. Bukankah itu lebih indah…"
"Stop omong kosongmu. Sekali lagi aku minta kau pergi, atau…!" Hei dia memotong testimoniku.
"Atau apa?" Aku buru-buru memotong balik perkataannya.
"Atau dengan tanganku sendiri, aku akan menghujamkan pedang ini ke jantungmu…" Kali ini Lulu tampak begitu serius, plus yakin. Dia memang selalu begitu.
"Hei…hei…Ini tampak bagaikan lelucon. Apa kamu sudah gila? Kenapa aku yang harus dibunuh. Aku orang netral. Aku hanya menginginkan perdamaian. Aku tidak mau melihat ada yang terluka di sini. Aku tak ingin ada perkelahian yang hanya disebabkan persoalan anaif. Lihat korban-korban yang berjatuhan. Aku…aku hanya ingin perkelahian ini berhenti."
"…Aku tidak. Aku menginginkan perkelahian ini!" Lulu tampak begitu memaksa. Dan kali ini diambilnya pedang di tangan Mel Gibson dan berjalan ke arahku. Sementara itu, di kejauhan kudengar suara histeris cewek-cewek…"Habisi Edy…habisi Edy…"
Aku tidak bisa percaya. Mereka yang tadinya memujaku, kini berubah menjadi membenciku, dan menginginkan aku mati?
"…Hei kalian semua. Apakah kalian sudah gila? Hentikan perkelahian ini…," aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku karena tiba-tiba sebuah pedang menghujan tepat ke arahku. Lulu telah melakukannya.
"…Ah, Lulu. Kamu membunuhku…" Aku cuma bisa bersuara lirih kepada Lulu.
"Ya…Sudah lama aku ingin melakukan ini…" Jelas sekali kulihat wajah puas Lulu.
"Ye…hidup Lulu…Hidup Lulu…" Kudengar suara berisik anak-anak lain menyambut aksi Lulu. Sementara aku sekarat dengan darh mengucur deras di dadaku. Perih sekali. Lebih perih lagi karena pedang ini menancap di dadaku untuk sebuah alasan aneh, oleh seorang cewek yang aku puja.
Aku terjatuh. Sakit dan pusing sekali saat itu. Aku mengerang kesakitan dan tidak ada yang peduli. Hanya sorak sorai gembira orang-orang di sekelilingku. Ini pasti dunia yang sudah gila. Kucoba menarik pedang ini dari dadaku. Tidak bisa. Aku tak punya tenaga. Darah terus mengalir, membasahi baju putihku. Dan saat itu kurobek bajuku, berusaha untuk tetap hidup. Sekali lagi, saat kurobek bajuku.
***
Kutulis surat ini dari surga, untuk dunia yang sudah gila, saat kurobek bajuku.
Bogor, Januari 2005
Eftianso