Archive for August, 2006

Cerpen: Saat Kurobek Bajuku

Monday, August 14th, 2006

…Belum selesai gemuruh itu, aku diminta memberi sambutan, sepatah duapatah kata,

"…Maaf Bapak Kepala Sekolah, sepatah duapatah kata mungkin tidak cukup untuk mengungkapkan rasa bahagia ini." Begitulah aku memulai sambutan. Teman-teman yang melihat aksiku semakin riuh sambil bertepuk tangan.

"Keberhasilan ini adalah buah kerja keras saya, orang tua, dan bapak ibu guru sekalian. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih yang…" Kulihat cewek-cewek memandangku dengan penuh kagum. Dan itu dia… Lulu, ada di bagian depan. Kulihat dia tampak terdiam sambil terus memandangku. Dia tidak tampak kagum dengan aksiku.

"…Saya jauhi narkoba, alkohol, dan rokok. Suka juga tidak suka tawuran. Untuk apa kita tawuran? Kalau dengan tawuran kita bisa tambah ganteng, saya pasti ikut tawuran. Tapi enggak, kan…?" Hahaha, semua orang tertawa. Tapi tidak dengan Lulu. Kenapa dia? Bukankah pidatoku ini cool, sexy. Apa masih kurang macho? Oke, aku lanjutkan.

"…Waktu kecil saya mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tua saya. Begitupun sekarang. Rasa-rasanya, saya adalah orang paling berbahagia di dunia. Adakah yang lebih baik dari ini?" Teman-teman masih saja bertepuk tangan untuk setiap kata-kata yang indah. Tapi aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah para cewek. Melihat air muka mereka yang bersinar-sinar, membuatku semakin bersemangat. Aku yakin sebagian dari mereka jatuh cinta padaku, atau paling tidak berharap pacar mereka menjadi seperti aku.

Tapi, tetap saja kulihat Lulu tidak sebersinar cewek-cewek yang lain. Ada apa ya? Apa dia tidak kagum padaku? Apakah dia tidak terpesona padaku? Apakah dia tidak jatuh cinta padaku? Tampaknya tidak. Dia mungkin masih mencintai Tommy, yang memang harus aku akui jauh lebih ganteng daripada aku. Tapi aku kan cool, pintar, smart, jago olah raga, dan selalu ceria. Mana mungkin dia masih berteguh pada Tommy? Itu tidak masuk di akal. Oke, lebih baik aku coba lagi.

"…Mimpiku adalah mengubah dunia. Sama seperti Thomas Alfa Edison yang membuat dunia ini menjadi terang benerang. Aku akan membuat dunia ini menjadi lebih bersinar lagi…" Tak cukup dengan itu, aku terus bereksperimen dengan kata-kata.

"…Bulan bersinar itu sungguh indah, tapi alangkah indah jika kita bisa membuat bulan-bulan lain yang lebih indah dan lebih bercahaya. Kita bisa, teman-teman, dan saya berjanji akan mencoba untuk itu…!" Hmm, tampaknya mulai berlebihan. Tapi toh mereka tetap saja bersorak-sorak kagum. Begitu pula guru-guru.

"…Hidup Edy…hidup Edy…hidup Edy…"

Diantara kerumunan wajah-wajah takjub nan berseri itu, masih saja kulihat warna kelabu di wajah Lulu. Ah, aku yakin bukan karena pidatoku ini. Pasti ada yang lain. Terus saja kuarahkan pandanganku ke arah Lulu. Dia tidak berkata apa-apa. Senyumpun tidak tampak keluar dari bibirnya yang seksi.

Sementara pidatoku terus berlanjut, kulihat Lulu mulai meninggalkan barisan, sambil agak berlari menuju ruang kelas.

"…Saya mengajak teman-teman untuk bergabung dengan saya memerangi tawuran antar pelajar. Marilah kita ‘be nice and cool’. Saya yakin segala persoalan dapat kita pecahkan bersama-sama…" Lima belas menit sudah aku berpidato dan tampaknya masih belum akan berakhir. Cewek-cewek juga masih berteriak histeris. Sayang sudah tidak ada Lulu lagi di sana. Aku mencoba berfikir tentang apa yang dilakukan Lulu tadi. Hmmm, mungkin saja dia jatuh cinta padaku, tapi dia pendam perasaannya karena saat ini statusnya masih terikat dengan Tommy. Mungkin karena tidak kuat menahan perasaan itu akhirnya dia keluar dari barisan, sambil menangis menuju kelas. Dan di kelas, dia menangis sekuat tenaga sambil menyesali keadaannya saat ini, "…andai aku belum milik Tommy saat ini, kau pasti jadi milikki, Edy…!" Begitulah mungkin penyesalannya saat ini. Tapi sejujurnya aku tidak tahu apa yang ada di otaknya saat ini. Bisa saja dia sedang kesal dengan lagakku, atau juga dia muak dan muntah melihatku. Mungkin saja dia membenci kesuksesanku. Atau mungkin… tidak ada yang difikirkannya saat ini.

"…Saya meminta teman-teman semua memiliki jiwa solidaritas yang tinggi terhadap nasib teman-teman kita yang ada di Aceh. Solidaritas teman-teman, solidaritas…!" Aku melanjutkan pidatoku dengan bersemangat dan dengan nada suara yang lantang berharap suaraku masih bisa didengan oleh Lulu di ruang kelas sana.

"…Mari kita galang…"

…Brakkk! Tiba-tiba kudengar suara yang lebih keras dari suaraku.

"…ayo serang!" Kulihat segerombolan anak-anak SMA tetangga dengan tampang beringas, baju dikeluarkan, dan sebagian membawa senjata, berlarian menuju sekolahku. Cewek-cewek yang tadinya menyimakku berhamburan berlarian menyelamatkan diri. Aku terdiam sejenak dan berfikir, sebelum kemudian aku berteriak…

"…Kita diserang…!"

***

Perkelahian masal yang ridak bisa dihindarkan. Cowok-cowok salingl empar, saling pukul, saling maki, dan saling tendang. Kaca-kaca sekolah pecah tak karuan. Darah-darahpun mulai jatuh dari cowok-cowok yang kena sabet pedang. Persis seperti film kolosal Brama Kumbara, hanya pakaian mereka tidak tampak konyol, karena mereka berseragam SMU. Sementara aku tetap terdiam dan terbengong di atas podium, tidak bisa berkata-kata. Yang kulihat hanyalah lapangan yang dipenuhi anak-anak SMA yang berkelahi, saling membenci. Aku tak bisa apa-apa. Aku tak bisa ikut memukul, menendang, meninju, karena aku tak tahu alasan perkelahian ini. Ingin rasanya aku melerai mereka dari atas sini, dari podium. Tapi aku tak punya alasan bagus untuk melakukan itu.

"…Mana yang namanya Tommy?" Terika salah seorang dari SMA tetangga itu. Tampaknya dia adalah boss dari gerombolan itu. Sambil memegang pedang yang berlumuran darah, kulihat kepalanya mencari-cari seseorang. Sambil terdiam, kulihat dia seperti Mel Gibson yang memimpin perang di film Breaveheart. Sungguh gagah dan jantan. Aku iri padanya. Sekali lagi dia berteriak…

"…Mana yang namanya Tommy? Kalo gak ada yang kasih tau mana yang namanya Tommy, gua abisin seisi sekolah ini…!" Dia sungguh berwibawa sambil mengacungkan pedangnya.

"Hei, elo yang di atas sana! Mana yang namanya Tommy!"

"G…g…gua gak tau. T…t…tanya aja a..a…ama yang laen…" Astaga, baru saja si Mel Gibson menanyai aku dan aku gugup. Aku tidak bisa meninggalkan podium ini karena aku terlalu gugup, atau takut.

"Emang ada apa dengan Tommy?" aku mulai bertanya pada Mel Gibson lewat microphone.

"Dia nidurin pacar gua! Kurang ajar banget tuh baji***n. Kalo berani keluar lo…Tomy!" Begitulah Mel Gibson berteriak-teriak. Eh… wait a second. Nidurin pacar dia? Memang siapa pacar dia?

"Lulu! Elo semua pasti udah kenal sama dia!" O… jadi cewek yang dimaksud itu Lulu. Hah, Lulu itu pacar Tommy atau Mel Gibson? Lulu ditiduri Tommy?

"Gua gak bisa kasih ampun buat orang-orang yang ganggu pacar gua…!

Tiba-tiba…

"…Gua yang namanya Tommy! Dan gua adalah pacar official Lulu. Elo mau apa?"

Tomy masuk ke tengah arena sambil membawa kayu panjang yang mungkin digunakan untuk senjata. Dari atas sini, podium, bisa kulihat anak-anak lain memberi jalan untuk Tommy. Di tengah arena tinggal Mel Gibson dan Tommy yang saling berpandangan bengis. Sungguh adegan yang sangat dramatis.

Dan terjadilah perkelahian naif itu. Aku bisa melihat detil demi detil bagaikan slow motion. Beberapa kali kulihat Tommy tertebas pedang Mel Gibson. Tiap kali itu pula cewek-cewek berteriak histeris. Tapi tetap saja tidak kulihat Lulu di sana.

"…kurang ajar!"

"…mati lo…"

Begitulah mulut mereka saling mencaci benci bergantian. Peluh keringat mengalir dari tubuh mereka. Sesekali juga kulihat darah yang mengucur. Tetapi perkelahian jantan itu tetap berlangsung seru. Anak-anak yang lain hanya melihat dari pinggir arena.

Ini sudah keterlaluan menurutku. Aku tidak bisa mendiamkan hal ini

"Berhentilah kalian…." aku yakin akulah yang bersuara paling lantang saat itu.

"…Apa kalian sudah gila… hanya karena seorang cewek aja kalian saling bunuh. Apa tidak ada cara lain untuk menyelesaikan permasalahan ini? Pasti ada…!" Tiba-tiba saja aku jadi berani. Entah kekuatan darimana, yang jelas aku tampak berwibawa saat itu. Terbukti perkelahian berhenti dan semua pasang mata memperhatikan aku.

"…Hei kalian!" Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah timur. Ternyata Lulu. Dia berjalan menuju arah kami, perlahan. Begitu tenang, dengan mimik wajah dingin. Cantik sekali. Aku memujamu, Lu!

"Hei, kau anak Mami. Pergilah!" Lulu menunjukku.

"…T…tapi…" Aku keheranan. Kenapa dia justru memintaku pergi. Bukankah aku kelihatan sexy sebagai juru selamat bagi pacar-pacarnya.

"Aku menginginkan perkelahian ini. Dan kau…hanya mengacaukan saja. Aku muak dengan semua tingkah lakumu. Sekali lagi aku bilang…pergi!" Tampaknya kali ini Lulu bersungguh-sungguh. Anak-anak lain bengong melihat kami.

"Lu…aku datang sebagai penyelamat. Melerai perkelahian, dan mungkin saja menyelamatkan pacar kamu. Bukankah itu lebih indah…"

"Stop omong kosongmu. Sekali lagi aku minta kau pergi, atau…!" Hei dia memotong testimoniku.

"Atau apa?" Aku buru-buru memotong balik perkataannya.

"Atau dengan tanganku sendiri, aku akan menghujamkan pedang ini ke jantungmu…" Kali ini Lulu tampak begitu serius, plus yakin. Dia memang selalu begitu.

"Hei…hei…Ini tampak bagaikan lelucon. Apa kamu sudah gila? Kenapa aku yang harus dibunuh. Aku orang netral. Aku hanya menginginkan perdamaian. Aku tidak mau melihat ada yang terluka di sini. Aku tak ingin ada perkelahian yang hanya disebabkan persoalan anaif. Lihat korban-korban yang berjatuhan. Aku…aku hanya ingin perkelahian ini berhenti."

"…Aku tidak. Aku menginginkan perkelahian ini!" Lulu tampak begitu memaksa. Dan kali ini diambilnya pedang di tangan Mel Gibson dan berjalan ke arahku. Sementara itu, di kejauhan kudengar suara histeris cewek-cewek…"Habisi Edy…habisi Edy…"

Aku tidak bisa percaya. Mereka yang tadinya memujaku, kini berubah menjadi membenciku, dan menginginkan aku mati?

"…Hei kalian semua. Apakah kalian sudah gila? Hentikan perkelahian ini…," aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku karena tiba-tiba sebuah pedang menghujan tepat ke arahku. Lulu telah melakukannya.

"…Ah, Lulu. Kamu membunuhku…" Aku cuma bisa bersuara lirih kepada Lulu.

"Ya…Sudah lama aku ingin melakukan ini…" Jelas sekali kulihat wajah puas Lulu.

"Ye…hidup Lulu…Hidup Lulu…" Kudengar suara berisik anak-anak lain menyambut aksi Lulu. Sementara aku sekarat dengan darh mengucur deras di dadaku. Perih sekali. Lebih perih lagi karena pedang ini menancap di dadaku untuk sebuah alasan aneh, oleh seorang cewek yang aku puja.

Aku terjatuh. Sakit dan pusing sekali saat itu. Aku mengerang kesakitan dan tidak ada yang peduli. Hanya sorak sorai gembira orang-orang di sekelilingku. Ini pasti dunia yang sudah gila. Kucoba menarik pedang ini dari dadaku. Tidak bisa. Aku tak punya tenaga. Darah terus mengalir, membasahi baju putihku. Dan saat itu kurobek bajuku, berusaha untuk tetap hidup. Sekali lagi, saat kurobek bajuku.

***

Kutulis surat ini dari surga, untuk dunia yang sudah gila, saat kurobek bajuku.

Bogor, Januari 2005

Eftianso

Cerpen: Asking for Some Clue: Tanya Rumput yang Bergoyang

Sunday, August 13th, 2006

Diki memang memakai kalung besar bertuliskan “Allah Save Me”. Tapi tak semua orang tahu bahwa Diki sedang bingung galau. Lihatlah cara berjalannya yang gontai, tangan terkulai lemah. Kalau saja semua orang berani menatap matanya, maka orang-orang akan tahu bahwa dia sudah tidak tahu akan kemana lagi hidup akan dibawanya. Diki memang berjalan, tapi apakah dia tahu bahwa dia sedang berjalan ke mana. Dia berbicara, tapi sebenarnya dia sedang meracau. Hidupnya berat, tak punya siapa-siapa, tak punya pekerjaan, dan tak punya uang. Tapi dia tidak gila, paling tidak belum.

Suatu malam Diki tertidur di depan sebuah toko obat Cina. Diki tidak sengaja tertidur di situ. Mungkin karena dia kelelahan berjalan, ke tempat yang dia tidak tahu. Mungkin juga karena suasana merah dari toko tersebut. Dalam tidur lelapnya, tampak kehidupan lain di mimpinya. Dia bertemu seorang bijak berjenggot, dan tentu saja dia tua. Lelaki tua dalam mimpi itu marah-marah ke Diki. “Laki-laki tidak berguna, lebih baik mati saja!” Begitulah si tua marah-marah. Diki berlutut dan memohon kepada si orang tua untuk memaafkan dia. Dia tidak pernah punya niat menjadi pecundang seperti ini. Dulu Diki memang suka main perempuan, semua hartanya habis untuk taruhan judi balap kuda, istrinya meminta cerai karena Diki selalu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, anaknya pergi karena malu dengan bapaknya, semalu babi yang mempunyai bapak babi. Tapi Diki sudah menyesali semua itu. Dan semua orang harus tahu itu. Semua orang harus melihat dia telah sadar. Tapi adakah orang yang peduli. Semua orang yang dia temui saat ini sudah tidak mengenali dia lagi. Semua orang sudah buta melihat dia. Lalu kenapa orang tua itu masih marah-marah dengan dia? Siapa dia? Apakah dia tidak sadar kalau dirinya tua dan jelek? “Apa yang kamu cari sekarang, sadar dan mulailah hidup baru!” begitu si laki-laki tua itu masih berteriak. “Bagaimana caranya?” tanya si Diki. “Tanyalah rumput yang bergoyang…”

Diki tiba-tiba terbangun. Hah… tanya rumput yang bergoyang? Diki sering melihat rumput yang bergoyang. Tapi alangkah bodohnya dia karena tidak pernah terfikirkan olehnya untuk bertanya pada rumput yang bergoyang untuk memecahkan masalah hidupnya. Tentu saja bertanya pada rumput yang bergoyang tidak membutuhkan ongkos. Pernah Diki pergi ke dukun untuk bertanya tentang nasibnya. Ongkosnya mahal dan tidak mujarab. Diki sampai berfikir bahwa dukun itu palsu. Dan sampailah Diki pada kesimpulan bahwa semua dukun itu berbohong, mereka cuma pura-pura bisa meramal nasib orang. Dengan dasar itu pula Diki pernah pura-pura menjadi dukun, tapi tidak laku. Ah… kembali ke rumput yang bergoyang, Diki tinggal menemukan rumput yang bergoyang, tentu saja yang segar dan hijau.

Sekarang masih larut malam. Diki berfikir untuk malam-malam ini bertanya dengan rumput yang bergoyang. Tapi selarut malam segelap ini, dimana dia bisa menemukan rumput yang bergoyang yang berwarna hijau segar? Malam biasanya mengubah warna hijau menjadi gelap dan tidak segar. Mungkin besok pagi saja Diki mencari rumput yang bergoyang.

Besoknya Diki berburu rumput yang bergoyang. Dia berjalan menuju ke sebuah peternakan milik seorang wanita tua. “Lady Ranch”. Dia berlari sekuat tenaga menuju sebuah lapangan rumput hijau segar. Larinya terhenti ketika tiba-tiba serombongan sapi-sapi secepat kilat mendahului dia dari belakang dan menghabiskan semua rumput yang ada. Diki tertunduk lesu. Dia terjatuh. Dia tutupi mukanya dengan kedua tangannya. Menangislah Diki tersedu-sedu. “Kenapa semua orang, ah termasuk semua sapi begitu kejam kepada diriku. Di mana aku akan bertanya lagi…!”

Diki berjalan perlahan tanpa tujuan. Tangannya gontai bergoyang goyang. Lambat laut Lady Ranch sudah tidak tampak lagi dari pandangannya. Tak tampak satupun rumput di depan mata Diki. Kalaupun ada adalah rumput-rumput kecil yang tidak bisa bergoyang. Diki bertanya pada rumput-rumput kecil itu, “di mana aku bisa menemukan saudara kalian yang bisa bergoyang…?” Entah kenapa rumput-rumput itu diam tidak menjawab. Mungkin karena melihat penampilan Diki yang kumal, rumput-rumput itu enggan menjawab.

Malam hari Diki sampai di sebuah pantai. Dia memutuskan untuk istirahat dan tidur. Dia berrencana untuk melanjutkan perjalanan keesok harinya, menuju ke suatu tempat yang dia juga tidak tahu, hanya mengikuti instingnya untuk menemukan rumput hijau yang bergoyang. Tertidurlah Diki dengan nyenyak. Dia berusaha untuk bermimpi dan bertemu orang tua pemarah yang bijak yang pernah ditemui di mimpi sebelumnya. Usaha yang sia-sia karena dia tetap tidak bisa bermimpi. Harapan Diki untuk bertemu dengan laki-laki tua dan bertanya di mana dia bisa bertemu rumput yang bergoyang tampaknya akan sia-sia. Ah, lupakan saja kesusahan malam ini dan malam-malam sebelumnya, Dik.

Esok harinya Diki bangun agak kesiangan. Di tempat ia bangun sudah ramai dikunjungi orang-orang yang berrekreasi di pantai. Tiba-tiba dia ditendang oleh beberapa anak kecil. “Dasar pemalas, jam 10 baru bangun tidur…”, teriak anak-anak. Dia diam saja, tak peduli apa kata anak-anak itu. Diki menuju satu sudut teluk yang ada batu besar. Di duduk di atas batu besar itu sambil melihat ke arah laut lepas. Rambutnya terkurai ke belakang oleh angin laut. Sambil sedikit memejamkan matanya, Diki memikirkan nasibnya yang tidak jelas. Terus saja berfikir, dan dia masih memiliki harapan dengan mencari rumput yang bergoyang. Diki masih memikirkan dimana dia akan menemukan rumput yang bergoyang itu. Tiba-tiba saja dari arah laut ada sebuah tombak melayang ke arah Diki. Tanpa sempat menghindar, tombak itu mengenai lengan Diki. Tombak yang menancap itu adalah tombak ikan. Begitu sakitnya Diki menahan, dan Diki tak kuat lagi sampai akhirnya dia pingsan.

Diki tersadar. Dia tidak tahu ada di mana sampai akhirnya dia melihat banyak petugas berseragam putih yang menandakan Diki ada di rumah sakit. Masih lelah dan lemas, dia menoleh ke samping tempat tidurnya dan dia melihat sesosok wajah tua lusuh berada di ranjang sebelah ranjangnya. Seorang laki-laki umurnya sekitar 60 tahunan. Dia tersenyum terus ke arah Diki. Diki salah tingkah terus menerus dilihat oleh pak tua itu.

Tertidur Diki entah untuk seberapa lama, sampai akhirnya dia dibangunkan oleh pak tua yang ada di sebelahnya.
“Hey, bangunlah. Kenapa kamu tidur terus?” kata pak tua itu.
“Karena aku sakit, sudahlah pak, biarkan aku tidur…!”
“Kamu tidak sesakit itu kan?” pak tua itu masih bertanya.
“Apa maksudmu, lihat lenganku… dibalut perban. Lenganku kena tombak!”
“Mestinya yang diperban adalah hatimu…otakmu diberi penisilin, bukan lenganmu!” pak tua itu memulai pembicaraan yang membuat Diki tertarik.
“Apa maksud bapak? Saya baik-baik saja, well, kecuali dengan lengan saya tentunya. Kenapa bapak berkata demikian?”

Tanya jawab antara pak tua dengan Diki terus berlangsung. Pak tua tetap memaksa bahwa ada yang tidak beres dengan Diki selain lengannya. Sementara Diki tetap memaksakan apa yang dia katakan bahwa dia baik-baik saja kecuali lengannya. Terus-terus sampai bermenit-menit.

“oke…oke…hidupku hancur!” Diki mulai menyerah.
“Aku tahu, itu sebabnya aku tetap berteguh…”
“tapi aku yakin aku akan memperbaikinya, segera setelah aku keluar dari rumah sakit!”

“…kenapa tidak sekarang?” pak tua memberikan penekanan pada kata-katanya yang terakhir.
“…bagaimana mungkin, bagaimana caranya…?” Diki mulai kesal dengan obrolan ini dan merasa pak tua itu sok tau dan mulai mencampuri urusannya. Mereka bahkan tidak saling mengenal, tahu namanya saja tidak.
“Bapak ini siapa sih? Bapak bukan orang tua saya, bahkan kita belum pernah bertemu sebelumnya…” Diki menunjukkan kekesalannya pad orang tua itu.

“Aku akan mulai penjelasan ini bukan dari perkenalan, tapi dari sebuah konklusi simpel!” kata pak tua dengan serius, seserius perkataan-perkataan sebelumnya.

“Segala sesuatu dimulai dari sebuah pemikiran dan diikuti oleh keyakinan. Keyakinan didasari oleh keinginan. Coba sekarang sebutkan apa keinginanmu saat ini.!”

Diki menjawab, “…aku ingin menjadi kaya saat ini!”
“Terus berfikir, berharap dan yakinlah dengan keinginanmu itu, mulai dari sekarang! Aku katakan sekali lagi, mulai dari sekarang!” pak tua itu berbicara keras dan tegas.
“Well,” kata pak tua, “sekarang sudah pukul 13.13, aku harus pergi sekarang!”

“Apa? Begitu saja… mana solusi dari permasalahanku. Kalau cuma bicara begitu aku juga bisa… E e e, kemana kau… Bapak benar-benar pergi? Ayolah, bapak yang memulai pembicaraan, kenapa mengakhiri dengan cara begini?” Diki kebingungan.

“Hey, ah… dia benar-benar pergi…” aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Kulihat ranjang yang pernah dia tiduri. Kosong, sepi. Kulihat bagian samping ranjang itu dan terlihat sebuah papan nama pasien,
“Nama Pasien: Rumput Yang Bergoyang
Alamat: Surga dan Neraka
Nama Penyakit: Prtio Gerho Brewqast Cvart”

Cibubur, 5 Juli 2006
Eftianto, pencatat seni muda

Cerpen: Wanita Koridor (Biarkan Tanganku Terikat…!)

Saturday, August 12th, 2006

Pintu besi itu terbuka lebar. Seorang laki-laki bertubuh besar dengan wajah tertutup topeng masuk ke ruang kami, dan dia berseru pada pacarku…”hey laki-laki lemah layaknya bencong, tinggalkan gadismu di lantai semen yang dingin itu…!” Laki-laki itu mulai melangkahkan kakinya satu persatu. Pacarku yang menurut laki-laki itu lemah layaknya bencong makin ketakutan. Laki-laki besar itu tidak tertawa layaknya penjahat yang sering kita lihat di sinetron-sinetron tidak bermutu di layer teve. Dia tetap santai mendekati kami berdua. Aku masih menutupi tubuh telanjangku dengan sprei kasur yang rencananya akan kami gunakan untuk ‘ngefak’. Tak sampai 2 langkah lagi laki-laki besar itu akan menginjak tubuh pacar lemahku, dia sudah lari terbirit-birit.

Aku seharusnya takut, tapi aku justru menikmati suasana kelaki-lakian ini. Tinggal 4 langkah lagi sang tubuh besar itu ada di hadapanku. Dia membuka topengnya, dan kutatap wajahnya yang hitam dan kotor. Sprei aku lepaskan dan kupertontonkan tubuhku yang haus sentuhan. Aku serahkan sepenuhnya tubuh ini kepadanya.

Dan malam itupun berlalu dengan penuh fantasi dan petualangan. Tuan P yang gagah itu telah pergi, tapi aku masih bisa merasakan keperkasaan itu. Kuberjalan sepanjang koridor bangunan bekas penjara zaman Belanda ini. Sambil tersenyum sepanjang jalan, aku memaki para wanita di sepanjang jalan yang kutemui…”kalian wanita bodoh, kenapa tidak menikmati hari-hari hijau ini layaknya aku! Aku sudah tidak perawan lagi… Aku yang 18 tahun sudah menikmati hidup… Sedangkan kalian… wanita endonesa yang bodoh…!” Tentu saja aku memaki dalam hati, mana berani aku memaki dengan mulutku yang bau sperma ini.

Kupandangi juga semua laki-laki di jalan. Ada yang tua, ada yang muda, dan ada yang anak-anak. Mereka semua cukup seksi. Bahkan anak kecil yang menangis itupun cukup seksi. Andaikan aku bisa tidur dengannya… Sebenarnya aku hanya tinggal menunjuk laki-laki yang ada di jalanan ini untuk ‘ngefak’ dengan aku. Aku berani jamin mereka pasti mau, mereka kan hanya laki-laki. Oh, ya… sekali lagi mereka kan hanya laki-laki.

Dalam fikiranku, bagaimana jika aku membuka sedikit bajuku dan menonjolkan dadaku sedikit saja. Dadaku memang tidak besar, tapi aku yakin semua mata akan melihat dadaku, anak-anak sekalipun. Alangkah menyenangkannya jadi perempuan. Atau lebih ekstrim lagi kusobek sedikit saja celana jins ini dan sedikit memperlihatkan pantatku… Pura-pura saja aku tak tahu kalau celanaku sobek. Haha… Wanita menguasai dunia.

Aku bahkan tidak perlu berkata-kata untuk bisa mengajak ABG itu mengeluarkan alat kelaminnya dan memasukkan ke alat kelaminku. Mungkin dia belum pernah melakukannya, tapi dengan sedikit pengalamannku, dia akan mengingat pengalaman pertamanya denganku. Atau laki-laki tua itu. Uh, aku bayangkan alat kelaminnya yang sudah mulai loyo berada di mulutku. Tak berasa terlalu nikmat tapi pasti penuh sensasi. Aku akan lihat bagaimana aku yang seorang wanita bisa membuatnya melakukan tindakan bodoh. Hah, once again, woman rule!

Sialan, hak sepatuku patah. Tolah-toleh kulihat tak ada orang yang memperhatikan aku. Seperti iklan di teve, kupatahkan hak sepatuku yang satu lagi supaya seimbang. Huh, hampir saja membuat aku malu. Koridor ini terasa panjang sekali. Orang-orang bodoh di sekelilingku masih saja melakukan aktivitas bodoh mereka. Namanya juga orang-orang bodoh, pasti melakukan hal-hal bodoh.

Rasanya koridor ini semakin panjang dan semakin jauh. Aku lelah sekali, dan rasanya kaki ini sudah tidak mampu menjejakkan langkah lagi. Aku berhenti sejenak. Aku tersenyum pada seorang laki-laki bertubuh atletis dan ganteng. Dia melihatku dengan tersenyum pula. Aku memberi signal padanya untuk pergi denganku. Tentu saja dia harus membopong aku ke tempat yang nyaman untuk ‘ngefak’. Aha, dia menerima sinyalku.
“Hai, apa yang bisa aku bantu…?” tanya sang lelaki ganteng itu.
“Hem, aku capek dan maukah kamu membawaku ke tempat yang nyaman?”
“Oh, tentu saja, kemanapun kamu mau…!” Lelaki itu memang ramah dan menyenangkan.

Tak sampai 10 menit kami sudah sampai di sebuah penginapan yang tidak terlalu bersih. Tapi lumayanlah kalau hanya untuk sekedar ‘ngefak’.
“Hei, wanita. Aku tinggalkan kau di sini supaya kau bisa istirahat!” kata lelaki ganteng itu.
“Tentu saja sayang, aku tetap tunggu kamu di sini…!”
“O o, tidak perlu menungguku, aku dan pacarku akan pergi dari sini sekarang…!”

“Hai sayang, kamu sudah siap?” Seorang laki-laki lagi, yang juga ganteng menyambangi pacarnya, cowok ganteng yang menolongku tadi.

“Hei, kalian mau kemana?” teriakku. Kubuka semua pakaianku sehingga tidak satupun kain yang menutupi badanku. “Tidakkah kalian ingin ‘ngefak’ denganku. Lihatlah tubuhku, lihatlah gairahku…!”

Tak terjadi apapun dengan kedua homo tersebut. Aku keluar dari hotel lusuh ini dengan kesal. Kembali kususuri koridor panjang ini, lagi. Dan koridor ini terasa semakin panjang dari semula. Kuberhenti sejenak. Kulihat seorang laki-laki esempe di depanku. Aku beri dia sinyal penuh sensasi, jari tengah. Dia lari terbirit-birit. Ah, dasar yunior. Kembali aku mencoba melangkahi koridor ini. Di seberang kulihat ada sepasang laki-laki tua dan wanita tua sedang bertengkar. Kulihat slow motion pertengkaran mereka. Mulut sang laki-laki memaki sembari tangannya terangkat-angkat di atas seolah-olah akan menampar si perempuan. Mungkin mereka suami istri, sebuah konsep bodoh yang dianut sebagian besar manusia di bumi. Tanpa takut, sang istri memaki sang laki-laki. Dalam gerakan lambat yang kulihat keluar kata-kata kotor dari sang perempuan yang bisa kutangkap secata visual. Kurang lebih begini, “…dasar laki-laki, tak kurang berapa perempuan yang kau tiduri…!”. Tiba-tiba tangan sang lelaki sudah ada di pipi sang perempuan. Larilah sang perempuan sambil menangis. Sangat klasik. Alangkah bodohnya sang perempuan. Dengan sikap seperti itu bagaimana dia bisa menguasai dunia.

Sang laki-laki itu menyeberangi jalan menuju ke koridor yang sedang aku tapaki. Dengan berjalan cepat sekali, dia tiba-tiba sudah ada di depanku. Gerakan slow motion itu sudah berakhir. Kupanggil laki-laki itu.
“…Hei, lupakan saja dia. Kau mau ngefak denganku…?” kuucapkan kata-kata indah itu tanpa basa-basi.
…Telepak…! Tangannya yang besar khas laki-laki pekerja kasar mendarat di pipiku.

“…dasar wanita koridor, kamu pikir aku laki-laki macam apa…?” teriaknya dengan kasar.
“…laki-laki seperti dalam bayanganku…!” jawabku seadanya.
“…pergi kau, kau tidak ada bedanya dengan wanita koridor lain yang mengganggu rumah tangga orang lain. Lihat aku telah melukai istriku, yang sangat aku cintai hanya karena aku tergoda oleh kalian, di koridor ini. Pergi dari hadapanku, sekarang juga…!” laki-laki itu berteriak ke arahku sambil menangis. Wow, laki-laki besar menangis sungguh menyebalkan untuk dilihat.
“…kau yang datang ke koridor ini dan seharusnya kau yang pergi dari hadapanku… dasar laki-laki lemah, pemberi kotor pada warna dunia…,” sebagai wanita koridor aku merasa memiliki koridor ini, walaupun aku tak menginginkan koridor ini sejatinya.
“ah… iya… mohon maaf. Maafkan aku sebagai laki-laki yang tidak punya jiwa. Aku akan menyingkir dari koridor perak ini dan akan kulangkahi jalanan debu yang emas itu, walaupun dengan susah payah. Sekali lagi maafkan aku…!”
“Tentu saja…!” kumaafkan dia, tanpa lupa kutampar pipinya dengan sangat keras supaya menjadi pelajaran buat dia.

…unfinished… I couldn’t find any word anymore… help me…
Cibubur, last July 2006
Eftianso